WAYANG INTELEKTUAL
(oleh: Andre Y. Setyanjana)
Pagi ini Ahmad tidak pergi ke kampus,
Ahmad pun berencana untuk melanjutkan tidurnya. Tiba-tiba terdengar suara
ketukan di pintu kamarnya. Sehingga Ahmad bergegas membuka pintu, rupanya yang
datang adalah Adi. Melihat penampilan Adi yang rapi,membuat Ahmad heran dan
kebingungan. “Mau kemana bro?”tanya Ahmad
dengan penasaran. Mendengar pertanyaan tersebut, Adi langsung menjawab dengan
sedikit lelucon.”Mau ngelamar kerja mad. Ayo berangkat? Sudah telat ini” jawab
Adi. “Ah..yang benar saja kamu?” tanya Ahmad dengan kebingungan. Kemudian Adi
menjelaskan kepada Ahmad bahwa hari ini ada kuliah pengganti. Tanpa pikir
panjang, Ahmad bergegas ganti baju, tanpa mandi terlebih dahulu. Kedua kawan
tersebut dengan tergesa-gesah langsung menuju kampus Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga, setelah memarkirkan sepeda motornya di pakiran kampus, dengan
gelisah mereka lari menuju ruang 402 yang terletak di lantai 4 Fakultas Syariah
dan Hukum.
Ketika mereka sampai didepan pintu ruang tersebut, dari kejauhan terlihat dosen telah tiba di kelas dan sedang asyik menjelaskan materi kepada mahasiswanya. “ Karena kamu, saya jadi telat” gumam Adi dengan nada kesal. “ Kamu juga, kenapa tadi tidak langsung kasih tau saja?” jawab Ahmad. Keduanya saling berdebat dan saling menyalahkan satu sama lain. Beberapa menit kemudian ada seseorang yang datang menghampiri mereka. “Ada apa mas?” tanya orang tersebut. Dengan spontan Adi menjawab pertanyaan itu dengan sedikit emosi, “Saya telat, karena dia”(sambil menunjuk Ahmad). “Oh..gitu” sahut orang tersebut. Ahmad tidak menghiraukan tanggapan Adi, Ia asyik memainkan gadget-nya, tanpa di sengaja ia membuka whatapps grup kelasnya, ternyata ruangan yang di pakai kuliah pengganti berada di ruang 403. Mengetahui hal tersebut Ahmad meninggalkan Adi yang sedang sibuk mengobrol dengan orang tersebut menuju ruangan 403 di sebelahnya. Kelas sudah penuh sesak di duduki para mahasiswa yang datang lebih awal, Ia mengambil tempat duduk yang posisinya didepan meja dosen. Disaat tersebut Adi berkenalan dengan orang itu.
Ketika mereka sampai didepan pintu ruang tersebut, dari kejauhan terlihat dosen telah tiba di kelas dan sedang asyik menjelaskan materi kepada mahasiswanya. “ Karena kamu, saya jadi telat” gumam Adi dengan nada kesal. “ Kamu juga, kenapa tadi tidak langsung kasih tau saja?” jawab Ahmad. Keduanya saling berdebat dan saling menyalahkan satu sama lain. Beberapa menit kemudian ada seseorang yang datang menghampiri mereka. “Ada apa mas?” tanya orang tersebut. Dengan spontan Adi menjawab pertanyaan itu dengan sedikit emosi, “Saya telat, karena dia”(sambil menunjuk Ahmad). “Oh..gitu” sahut orang tersebut. Ahmad tidak menghiraukan tanggapan Adi, Ia asyik memainkan gadget-nya, tanpa di sengaja ia membuka whatapps grup kelasnya, ternyata ruangan yang di pakai kuliah pengganti berada di ruang 403. Mengetahui hal tersebut Ahmad meninggalkan Adi yang sedang sibuk mengobrol dengan orang tersebut menuju ruangan 403 di sebelahnya. Kelas sudah penuh sesak di duduki para mahasiswa yang datang lebih awal, Ia mengambil tempat duduk yang posisinya didepan meja dosen. Disaat tersebut Adi berkenalan dengan orang itu.
Beberapa saat kemudian, Adi dan
orang yang ngobrol di depan kelas tadi, masuk kedalam ruangan. Rupanya, orang
tersebut adalah dosen pengganti yang mengambil alih mata kuliah tersebut,
karena dosen yang biasanya berhalangan hadir. “Assalamuallaikum warahmatullah
hi wa barakatuh” ucapan salam dosen tersebut sebelum membuka kuliahnya. Dengar
kaget para mahasiswa menjawab salam tersebut. Kegiatan perkuliahan dimulai
dengan memberi kuis untuk segera dikerjakan dan dikumpulkan. Sontak membuat
sebagian mahasiswa kaget. Dengan penuh percaya diri, Ahmad dan Adi mengerjakan
kuis tersebut dan langsung mengumpulkannya, Setelah waktu yang di berikan
habis, beberapa mahasiswa terlihat cemas dengan pekerjaannya.
Namun, sebelum dosen menutup
perkuliahannya, sudah terpampang beberapa soal di tampilan slide powerpoint.
Ahmad tidak mengerti apa yang dimaksud dosen itu.”Itu apa di?” tanya Ahmad
kepada Adi.”Itu sepertinya tugas minggu depan, mad” jawab Adi. Tidak lama
kemudian dosen itu menjelaskan secara singkat mengenai tugas itu. “Silahkan
dikerjakan dan di kumpulkan besok pagi jam 09.00 di sekertariat prodi” kata
dosen tersebut. Setelah perkuliahan ditutup dengan bacaan hamdalah dan salam, dosen
meninggalkan ruangan tersebut.
Dengan berbagai keluhan, beberapa
mahasiswa meninggalkan ruangan dan tersisa Ahmad dan Adi yang masih asyik
ngobrol didalam ruangan.” Astaga, tugas menumpuk” gumam Ahmad. Dengan panjang
lebar Adi menanggapinya dengan santai, “Ya begitulah. Perkuliahan kan
menyerupai seni pertunjukan wayang, dimana kita sebagai lakon wayangnya dan
dosen sebagai dalangnya, sehingga kita harus menjalankan apa kehendak dosen dan
menghormatinya”. Mendengar hal itu, Ahmad mengiyakan apa yang dikatakan Adi. Ia
menyesal karena selama ini menganggap tugas-tugas itu sebagai pemicu kemalasan.
Selanjutnya Adi berusaha memotivasi Ahmad dengan mengajaknya mengerjakan tugas
itu secara bersama-sama sepulang kuliah.
Akhirnya setelah perkuliahan ini,
Ahmad yang dikenal mahasiswa pemalas dikelasnya berubah secara perlahan menjadi
rajin. Terbukti dengan nilai IP semester ini yang meningkat. Hal tersebut
menimbulkan persaingan antara Adi yang lebih dulu terkenal rajin dengan Ahmad
yang sekarang ini menjadi rajin. Persaingan yang terjadi tentunya persaingan
yang secara sehat yaitu berebut mendapatkan IP terbaik di kelasnya. Mereka
berdua sering terlihat belajar bersama di Perpustakaan. Sehingga banyak
teman-teman dikelasnya yang termotivasi dengan mereka berdua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar