Assalamualaikum.Wr.Wb

Salam Kenal.

Kamis, 19 Mei 2016

cerpen: wayang intelektual



WAYANG INTELEKTUAL
(oleh: Andre Y. Setyanjana)


Pagi ini Ahmad tidak pergi ke kampus, Ahmad pun berencana untuk melanjutkan tidurnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Sehingga Ahmad bergegas membuka pintu, rupanya yang datang adalah Adi. Melihat penampilan Adi yang rapi,membuat Ahmad heran dan kebingungan.                  “Mau kemana bro?”tanya Ahmad dengan penasaran. Mendengar pertanyaan tersebut, Adi langsung menjawab dengan sedikit lelucon.”Mau ngelamar kerja mad. Ayo berangkat? Sudah telat ini” jawab Adi. “Ah..yang benar saja kamu?” tanya Ahmad dengan kebingungan. Kemudian Adi menjelaskan kepada Ahmad bahwa hari ini ada kuliah pengganti. Tanpa pikir panjang, Ahmad bergegas ganti baju, tanpa mandi terlebih dahulu. Kedua kawan tersebut dengan tergesa-gesah langsung menuju kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, setelah memarkirkan sepeda motornya di pakiran kampus, dengan gelisah mereka lari menuju ruang 402 yang terletak di lantai 4 Fakultas Syariah dan Hukum.
          Ketika mereka sampai didepan pintu ruang tersebut, dari kejauhan terlihat dosen telah tiba di kelas dan sedang asyik menjelaskan materi kepada mahasiswanya. “ Karena kamu, saya jadi telat” gumam Adi dengan nada kesal. “ Kamu juga, kenapa tadi tidak langsung kasih tau saja?” jawab Ahmad. Keduanya saling berdebat dan saling menyalahkan satu sama lain. Beberapa menit kemudian ada seseorang yang datang menghampiri mereka. “Ada apa mas?” tanya orang tersebut. Dengan spontan Adi menjawab pertanyaan itu dengan sedikit emosi, “Saya telat, karena dia”(sambil menunjuk Ahmad). “Oh..gitu” sahut orang tersebut. Ahmad tidak menghiraukan tanggapan Adi, Ia asyik memainkan gadget-nya, tanpa di sengaja ia membuka whatapps grup kelasnya, ternyata ruangan yang di pakai kuliah pengganti berada di ruang 403. Mengetahui hal tersebut Ahmad meninggalkan Adi yang sedang sibuk mengobrol dengan orang tersebut menuju ruangan 403 di sebelahnya. Kelas sudah penuh sesak di duduki para mahasiswa yang datang lebih awal, Ia mengambil tempat duduk yang posisinya didepan meja dosen. Disaat tersebut Adi berkenalan dengan orang itu.
Beberapa saat kemudian, Adi dan orang yang ngobrol di depan kelas tadi, masuk kedalam ruangan. Rupanya, orang tersebut adalah dosen pengganti yang mengambil alih mata kuliah tersebut, karena dosen yang biasanya berhalangan hadir. “Assalamuallaikum warahmatullah hi wa barakatuh” ucapan salam dosen tersebut sebelum membuka kuliahnya. Dengar kaget para mahasiswa menjawab salam tersebut. Kegiatan perkuliahan dimulai dengan memberi kuis untuk segera dikerjakan dan dikumpulkan. Sontak membuat sebagian mahasiswa kaget. Dengan penuh percaya diri, Ahmad dan Adi mengerjakan kuis tersebut dan langsung mengumpulkannya, Setelah waktu yang di berikan habis, beberapa mahasiswa terlihat cemas dengan pekerjaannya.
Namun, sebelum dosen menutup perkuliahannya, sudah terpampang beberapa soal di tampilan slide powerpoint. Ahmad tidak mengerti apa yang dimaksud dosen itu.”Itu apa di?” tanya Ahmad kepada Adi.”Itu sepertinya tugas minggu depan, mad” jawab Adi. Tidak lama kemudian dosen itu menjelaskan secara singkat mengenai tugas itu. “Silahkan dikerjakan dan di kumpulkan besok pagi jam 09.00 di sekertariat prodi” kata dosen tersebut. Setelah perkuliahan ditutup dengan bacaan hamdalah dan salam, dosen meninggalkan ruangan tersebut.
Dengan berbagai keluhan, beberapa mahasiswa meninggalkan ruangan dan tersisa Ahmad dan Adi yang masih asyik ngobrol didalam ruangan.” Astaga, tugas menumpuk” gumam Ahmad. Dengan panjang lebar Adi menanggapinya dengan santai, “Ya begitulah. Perkuliahan kan menyerupai seni pertunjukan wayang, dimana kita sebagai lakon wayangnya dan dosen sebagai dalangnya, sehingga kita harus menjalankan apa kehendak dosen dan menghormatinya”. Mendengar hal itu, Ahmad mengiyakan apa yang dikatakan Adi. Ia menyesal karena selama ini menganggap tugas-tugas itu sebagai pemicu kemalasan. Selanjutnya Adi berusaha memotivasi Ahmad dengan mengajaknya mengerjakan tugas itu secara bersama-sama sepulang kuliah.
Akhirnya setelah perkuliahan ini, Ahmad yang dikenal mahasiswa pemalas dikelasnya berubah secara perlahan menjadi rajin. Terbukti dengan nilai IP semester ini yang meningkat. Hal tersebut menimbulkan persaingan antara Adi yang lebih dulu terkenal rajin dengan Ahmad yang sekarang ini menjadi rajin. Persaingan yang terjadi tentunya persaingan yang secara sehat yaitu berebut mendapatkan IP terbaik di kelasnya. Mereka berdua sering terlihat belajar bersama di Perpustakaan. Sehingga banyak teman-teman dikelasnya yang termotivasi dengan mereka berdua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar