Jalan Terjal Pendidikan di Indonesia

Foto : http://www.doamadtastier.com
Bangsa besar
yang dicita-citakan bung Karno ialah bangsa yang terdiri dari ratusan juta
insan al-kamil. Untuk mewujudkan bangsa yang seperti itu perlu adanya setuhan
pendidikan didalamnya. Pendidikan diharapkan mampu menambah kualitas sumber
daya manusia didalam suatu pembangunan negara. Begitupun Indonesia, pendidikan
nasional Indonesia merupakan pendidikan yang berakar pada pembangunan nasional
Indonesia. Untuk menghasilkan ramuan pendidikan yang ideal untuk masyarakat
Indonesia, kiranya perlu untuk mempelajari sejarah pendidikan kita dan kemudian
menganalisisnya. Meskipun ke-idealitasan ini sifatnya relatif namun kita harus
ber-ijtihad untuk menemukan suatu rumus yang sesuai demi kemajuan pendidikan di
Indonesia.
Indonesia
memiliki sejarah pendidikan yang sangat panjang. Pada masa kerajaan pendidikan
masih belum mengalami manajemen yang jelas, karena pada masa ini pendidikan
hanya untuk memenuhi kebutuhan primer saja, bagi rakyat biasa, sedangkan
pendidikan bagi kaum bangsawan tentu berbeda. Mereka mendapatkan pendidikan
yang lebih baik daripada rakyat biasa dan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan
primer. Pendidikan yang biasanya dinikmati oleh bangsawan yakni, tulis–menulis,
berhitung, seni dan lain sebagainya. Begitupun pada masa
penjajahan(Kolonialisme) Belanda, pendidikan belum mengalami demokratisasi
sehingga hanya orang–orang keturunan Belanda atau priyayi saa yang dapat
menikmati manisnya pendidikan. Untung saja anak – anak kaum Priyayi yang sadar akan kekurangan bangsanya,
yakni diperbudak kebodohan. Maka dari itu muncul organisasi–organisasi reaksi
yang mengusahakan berdirinya sekolah – sekolah untuk bangsa pribumi,itupun
hanya segelintir orang yang berkesempatan.
Setelah
Belanda menyerahkan kekuasaan kepada Jepang, pendidikan kita masih terbelenggu
kepentingan Jepang. Mereka mendidik pemuda-pemuda Indonesia untuk menjadi
Tentara dan Kacung bangsa Sakura itu. Disini beberapa pendiri bangsa memiliki
celah yang menarik untuk memanfaatkan Jepang untuk meraih kemerdekaan. Pendidikan
pada masa Jepang ini mendapatkan angin segar, karena pada saat itu mereka
mengizinkan rakyat untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan
bendera merah-putih, yang kami anggap ini merupakan pendidikan Nasionalisme.
Setelah
kemerdekaan sudah tercapai pada 17
Agustus 1945 barulah Indonesia menjadi bangsa yang utuh untuk merumuskan tujuan
kebebangsaannya. Begitupun pendidikan Indonesia memiliki tujuan yang jelas dan
tercantum pada UUD 1945. Pendidikan yang diartikan Paulo Friere sebagai proses
memanusiakan manusia dan sebagai pembebasan kebodohan akhirnya dirasakan bangsa
Indonesia setelah mencapai kemerdekaan. Demokratisasi pendidikan sudah mulai
terasa pada masa ini. Para pendiri bangsa(founding
father) tidak henti – hentinya membuat ramuan Pendidikan yang sesuai dengan
budaya masyarakat Indonesia.
Di era
Reformasi ini pendidikan di Indonesia mengalami krisis identitas dan orientasi.
Pendidikan kita mau dibawa kemana dan bagaimana pada saat ini mengalami
kebingungan. Hal ini dikarenakan berbagai dinamika politik dan kepentigan yang
sering ikut nimbrung sektor pembangunan intelektual ini. Tidak dapat dipungkiri
dinamika dalam pemerintahan akan berdampak pula pada pendidikan. Karena
berbagai kebijakan dan orientasi pendidikan ditentukan oleh aktor –aktor
pemerintahan. Hal ini yang terkadang membelenggu kebebasan pendidikan di
Indonesia.
Berkembangnya
teknologi diera modern ini juga menimbulkan dampak yang positif dan negatif,
dengan teknologi tentu dapat menambah mutu pendidikan, namun tidak dapat
dipungkiri juga kemajuan teknologi ini berdampak pada degradasi moral dan
mental. Anak-anak muda yang keliru menggunakannya dapat terusak moral dan
mentalnya. Pendidikan berkebudayaan kiranya dapat mengurangi krisis identitas
bangsa kita. Dalam pendidikan formal selayaknya sekolah menghadirkan pendidikan
kebudayaan yang tidak berhenti pada tingkat SMP saja, melainkan juga sampai
jenjang SMA. Pendidikan berkebudayaan ini membantu siswa untuk mengenali berbagai
kebudayaan bangsanya, dan jika sudah mengenal maka akan tumbuh rasa memiliki
sekaligus bangga terhadap apa yang menjadi budaya bangsanya.
Revolusi
mental yang telah di koar-koarkan beberapa waktu yang lalu, apakah saat ini
sudah menuai hasil? Mental seperti apa yang sudah dihasilkan?apakah mental –
mental begal?. Revolusi mental ini belum memiliki orientasi dan tindak lanjut
yang jelas. Pendidikan mental kiranya dapat diperoleh melalui pendidikan agama,
kurikulum pendidikan nasional seharusnya memberikan wadah untuk pendidikan
keagamaan bukan malah mengurangi jam-jam pelajaran agama. Apakah dengan
menambah jam-jam pelajaran umum dapat
mempercantik moral dan mental?.
Pendidikan di
Indonesia yang saat ini mengagung-agungkan sains dan menjadikan nilai menjadi
tolak ukur belajar membuat siswa seperti “Ikan yang dipaksa memanjat pohon”.
Siswa dituntut untuk memperoleh nilai yang bagus pada mata pelajaran yang tidak
ia kuasai dan tidak ia sukai. Bagi siswa yang terdegradasi mentalnya melakukan
berbagai cara untuk mendapatkan nilai yang memaksanya. Nilai ini juga tolak
ukur untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan selanjutnya. Bagi mereka
yang tidak bisa dan tidak berani mencurangkan diri terpaksa tidak ada
kesempatan diperolehnya.
Pendidikan
mengajarkan masyarakat tentang demokrasi, namun pendidikan sendiri membuat
dirinya tidak demokrasi. Sebab hanya orang – orang yang memiliki banyak uang
dan pintar saja yang dapat menikmatinya. Kemudian bagaimana nasib mereka yang
tidak beruang banyak dan tidak pandai? Apakah mereka hanya akan menjadi jongos
– jongos mereka yang beruang dan berilmu?
Bagaimana rantai kemiskinan dan perbudakan dapat terputus?. Harapan
pendidikan menjadi tombak pembebasan semoga dapat benar-benar terealisasi.
Meskipun pemuda bangsa saat ini digoda oleh hedonisme semoga dapat
terselamatkan sehingga mampu membangun bangsa. Perlu adanya kesadaran
pemuda-pemuda sebagai penerus bangsa yang akan membebaskan bangsa ini dari
kemiskinan dan perbudakan. “Dan saat ini bukanlah Ibu Pertiwi yang mandul kawan,
melainkan pemuda – pemuda bangsa yang Impoten, sehingga mereka tidak bisa
bereaksi ketika Ibu Pertiwi ditelanjangi oleh Bangsa Luar Negeri”.