Assalamualaikum.Wr.Wb

Salam Kenal.

Kamis, 21 Desember 2017

Jalan Terjal Pendidikan Indonesia

Jalan Terjal Pendidikan di Indonesia
Foto : http://www.doamadtastier.com
Bangsa besar yang dicita-citakan bung Karno ialah bangsa yang terdiri dari ratusan juta insan al-kamil. Untuk mewujudkan bangsa yang seperti itu perlu adanya setuhan pendidikan didalamnya. Pendidikan diharapkan mampu menambah kualitas sumber daya manusia didalam suatu pembangunan negara. Begitupun Indonesia, pendidikan nasional Indonesia merupakan pendidikan yang berakar pada pembangunan nasional Indonesia. Untuk menghasilkan ramuan pendidikan yang ideal untuk masyarakat Indonesia, kiranya perlu untuk mempelajari sejarah pendidikan kita dan kemudian menganalisisnya. Meskipun ke-idealitasan ini sifatnya relatif namun kita harus ber-ijtihad untuk menemukan suatu rumus yang sesuai demi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Indonesia memiliki sejarah pendidikan yang sangat panjang. Pada masa kerajaan pendidikan masih belum mengalami manajemen yang jelas, karena pada masa ini pendidikan hanya untuk memenuhi kebutuhan primer saja, bagi rakyat biasa, sedangkan pendidikan bagi kaum bangsawan tentu berbeda. Mereka mendapatkan pendidikan yang lebih baik daripada rakyat biasa dan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan primer. Pendidikan yang biasanya dinikmati oleh bangsawan yakni, tulis–menulis, berhitung, seni dan lain sebagainya. Begitupun pada masa penjajahan(Kolonialisme) Belanda, pendidikan belum mengalami demokratisasi sehingga hanya orang–orang keturunan Belanda atau priyayi saa yang dapat menikmati manisnya pendidikan. Untung saja anak – anak kaum  Priyayi yang sadar akan kekurangan bangsanya, yakni diperbudak kebodohan. Maka dari itu muncul organisasi–organisasi reaksi yang mengusahakan berdirinya sekolah – sekolah untuk bangsa pribumi,itupun hanya segelintir orang yang berkesempatan.
Setelah Belanda menyerahkan kekuasaan kepada Jepang, pendidikan kita masih terbelenggu kepentingan Jepang. Mereka mendidik pemuda-pemuda Indonesia untuk menjadi Tentara dan Kacung bangsa Sakura itu. Disini beberapa pendiri bangsa memiliki celah yang menarik untuk memanfaatkan Jepang untuk meraih kemerdekaan. Pendidikan pada masa Jepang ini mendapatkan angin segar, karena pada saat itu mereka mengizinkan rakyat untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera merah-putih, yang kami anggap ini merupakan pendidikan Nasionalisme.
Setelah kemerdekaan  sudah tercapai pada 17 Agustus 1945 barulah Indonesia menjadi bangsa yang utuh untuk merumuskan tujuan kebebangsaannya. Begitupun pendidikan Indonesia memiliki tujuan yang jelas dan tercantum pada UUD 1945. Pendidikan yang diartikan Paulo Friere sebagai proses memanusiakan manusia dan sebagai pembebasan kebodohan akhirnya dirasakan bangsa Indonesia setelah mencapai kemerdekaan. Demokratisasi pendidikan sudah mulai terasa pada masa ini. Para pendiri bangsa(founding father) tidak henti – hentinya membuat ramuan Pendidikan yang sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.
Di era Reformasi ini pendidikan di Indonesia mengalami krisis identitas dan orientasi. Pendidikan kita mau dibawa kemana dan bagaimana pada saat ini mengalami kebingungan. Hal ini dikarenakan berbagai dinamika politik dan kepentigan yang sering ikut nimbrung sektor pembangunan intelektual ini. Tidak dapat dipungkiri dinamika dalam pemerintahan akan berdampak pula pada pendidikan. Karena berbagai kebijakan dan orientasi pendidikan ditentukan oleh aktor –aktor pemerintahan. Hal ini yang terkadang membelenggu kebebasan pendidikan di Indonesia.
Berkembangnya teknologi diera modern ini juga menimbulkan dampak yang positif dan negatif, dengan teknologi tentu dapat menambah mutu pendidikan, namun tidak dapat dipungkiri juga kemajuan teknologi ini berdampak pada degradasi moral dan mental. Anak-anak muda yang keliru menggunakannya dapat terusak moral dan mentalnya. Pendidikan berkebudayaan kiranya dapat mengurangi krisis identitas bangsa kita. Dalam pendidikan formal selayaknya sekolah menghadirkan pendidikan kebudayaan yang tidak berhenti pada tingkat SMP saja, melainkan juga sampai jenjang SMA. Pendidikan berkebudayaan ini membantu siswa untuk mengenali berbagai kebudayaan bangsanya, dan jika sudah mengenal maka akan tumbuh rasa memiliki sekaligus bangga terhadap apa yang menjadi budaya bangsanya.
Revolusi mental yang telah di koar-koarkan beberapa waktu yang lalu, apakah saat ini sudah menuai hasil? Mental seperti apa yang sudah dihasilkan?apakah mental – mental begal?. Revolusi mental ini belum memiliki orientasi dan tindak lanjut yang jelas. Pendidikan mental kiranya dapat diperoleh melalui pendidikan agama, kurikulum pendidikan nasional seharusnya memberikan wadah untuk pendidikan keagamaan bukan malah mengurangi jam-jam pelajaran agama. Apakah dengan menambah jam-jam pelajaran umum dapat  mempercantik moral dan mental?.
Pendidikan di Indonesia yang saat ini mengagung-agungkan sains dan menjadikan nilai menjadi tolak ukur belajar membuat siswa seperti “Ikan yang dipaksa memanjat pohon”. Siswa dituntut untuk memperoleh nilai yang bagus pada mata pelajaran yang tidak ia kuasai dan tidak ia sukai. Bagi siswa yang terdegradasi mentalnya melakukan berbagai cara untuk mendapatkan nilai yang memaksanya. Nilai ini juga tolak ukur untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan selanjutnya. Bagi mereka yang tidak bisa dan tidak berani mencurangkan diri terpaksa tidak ada kesempatan diperolehnya.
Pendidikan mengajarkan masyarakat tentang demokrasi, namun pendidikan sendiri membuat dirinya tidak demokrasi. Sebab hanya orang – orang yang memiliki banyak uang dan pintar saja yang dapat menikmatinya. Kemudian bagaimana nasib mereka yang tidak beruang banyak dan tidak pandai? Apakah mereka hanya akan menjadi jongos – jongos mereka yang beruang dan berilmu?  Bagaimana rantai kemiskinan dan perbudakan dapat terputus?. Harapan pendidikan menjadi tombak pembebasan semoga dapat benar-benar terealisasi. Meskipun pemuda bangsa saat ini digoda oleh hedonisme semoga dapat terselamatkan sehingga mampu membangun bangsa. Perlu adanya kesadaran pemuda-pemuda sebagai penerus bangsa yang akan membebaskan bangsa ini dari kemiskinan dan perbudakan. “Dan saat ini bukanlah Ibu Pertiwi yang mandul kawan, melainkan pemuda – pemuda bangsa yang Impoten, sehingga mereka tidak bisa bereaksi ketika Ibu Pertiwi ditelanjangi oleh Bangsa Luar Negeri”.